"Ranu!" Narendra berteriak melihat jasad Ranu yang sudah tewas karena serangan mahkluk itu.

Pertempuran di tepi sungai berubah menjadi kekacauan. Makhluk mutasi itu, besar dan bersisik seperti batu, mengamuk dengan gerakan lamban tapi mematikan. Pria-pria Uksa berusaha keras menggunakan tombak dan jebakan untuk mengusirnya, tapi tidak ada satu pun serangan yang cukup kuat untuk melukai makhluk itu.

“Tarik dia ke arah jebakan! Cepat!” teriak Narendra, memimpin serangan.

Namun, setiap kali mereka mencoba mendekat, makhluk itu mengayunkan cakar besarnya, membuat mereka terpaksa mundur. Beberapa pria sudah terluka, dan situasinya semakin genting.

“Kenapa tidak ada yang berhasil?” salah satu pemburu mengeluh, wajahnya penuh keringat dan debu.

Narendra menggeram frustrasi, tapi ia tetap berusaha memimpin. “Jangan menyerah! Fokus padanya! Kita hanya perlu membuatnya pergi!”

Di tengah kekacauan itu, Kanha, yang seharusnya menunggu di kampung, muncul di antara semak-semak. Matanya lebar melihat keganasan makhluk itu, tapi ia tetap berlari ke arah kakaknya dengan tali jebakan kecil di tangannya.

“Kanha! Apa yang kau lakukan di sini?!” bentak Narendra dengan marah.

“Aku ingin membantu!” teriak Kanha, suaranya bergetar tapi tekadnya jelas.

“Kembali ke kampung sekarang juga!” Narendra berlari mendekat, berusaha menangkap Kanha sebelum ia terluka. Tapi makhluk itu sudah menyadari keberadaan anak itu.

Makhluk besar itu mengayunkan cakarnya ke arah Kanha, yang terdiam kaku karena ketakutan. Narendra berlari secepat mungkin, tubuhnya bergerak refleks untuk melindungi adiknya. Ia menutup tubuh Kanha dengan badannya, memejamkan mata, pasrah menunggu serangan makhluk itu.

Tapi cakar itu tidak pernah menyentuh mereka.

Suara benturan keras terdengar. Narendra membuka matanya dan melihat Lynx berdiri di depannya, memegang parang berkilau yang tampak aneh dan belum pernah ia lihat sebelumnya. Parang itu memantulkan cahaya matahari, dan sisik makhluk mutasi itu tampak retak di titik benturannya.

Narendra terdiam, begitu pula pria-pria Uksa lainnya yang menyaksikan dari kejauhan.

“Pergi ke tempat aman,” kata Lynx kepada Narendra, suaranya tenang tapi tegas.

Narendra berdiri, menarik Kanha bersamanya, dan bergabung kembali dengan kelompok lainnya. Ia terus memandang Lynx dengan campuran rasa kagum dan bingung. “Senjata apa itu? Dan bagaimana dia bisa menghentikannya?”

Lynx berdiri tegak di hadapan makhluk itu, memutar parangnya di tangannya. Makhluk itu menggeram, menyadari bahwa Lynx adalah ancaman yang lebih besar. Tapi Lynx tidak terburu-buru menyerang.

“Dengar aku!” teriak Lynx kepada pria-pria Uksa. “Kita harus bekerja sama. Jangan menyerang sembarangan. Fokus pada kakinya—buat dia kehilangan keseimbangan!”

Narendra segera mengambil alih, menerjemahkan arahan Lynx ke kelompoknya. “Dengar dia! Serang kakinya, tapi jangan mendekat terlalu lama!”

Para pria mulai bergerak lebih terkoordinasi, menggunakan tombak mereka untuk menyerang kaki makhluk itu. Setiap kali mereka membuatnya terhuyung, Lynx bergerak cepat di sela-sela kekacauan, menyerang titik lemah makhluk itu dengan parangnya. Ia memastikan serangannya tidak mencolok, menghindari perhatian terlalu banyak.

“Ayo! Kita bisa melakukannya!” Narendra berteriak, semangatnya mulai kembali.

Serangan gabungan mereka perlahan-lahan mulai membuahkan hasil. Makhluk itu bergerak lebih lambat, sisiknya mulai retak di beberapa tempat. Setiap serangan dari makhluk itu yang membahayakan penduduk Uksa, segera Lynx menyelamatkan mereka dengan menangkis atau menarik mereka.

Setelah mendapatkan serangan bertubi-tubi, dan makhluk mulai terlihat kewalahan, Lynx segera memberi instruksi sambil menyerahkan parangnya ke Narendra,"Gunakan senjata ini, serang leher belakangnya!"

Narendra yang kaget menerima senjata dari Lynx segera mengambil dan dengan serangan terakhir, Narendra menghantam bagian leher makhluk itu dengan kekuatan penuh, membuatnya terjatuh tidak bergerak lagi.

Suasana hening sejenak sebelum sorak-sorai meledak di antara para penduduk Uksa. Mereka berlari mendekat, memeriksa orang-orang yang terluka, dan merayakan kemenangan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

“Kita mengalahkan makhluk itu!” seru salah satu pria, wajahnya penuh kelegaan.

Narendra menatap Lynx dengan kagum. “Kau... kau benar-benar luar biasa. Berkat arahan dan bantuanmu serta senjata itu, kami bisa mengalahkannya."

Lynx hanya tersenyum tipis. “Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan. Tapi ini adalah kemenangan kita bersama.”

Malam itu, penduduk Uksa mengadakan pesta kecil untuk merayakan kemenangan mereka. Meski terdapat kesedihan karena kehilangan beberapa anggotanya, mereka tetap merayakan kemenangan pertama mereka melawan mahkluk mutasi. Makanan terbaik disiapkan, dan tawa mengisi udara. Lynx duduk di sudut bersama Narendra dan Kanha, menikmati suasana.

Kanha, yang tidak pernah bisa diam, akhirnya membuka mulut. “Hei, Lynx, kau ini sebenarnya sekuat apa sih? Kenapa tadi kau cuma memberi arahan? Aku yakin kamu bisa saja mengalahkan makhluk itu sendirian, kan?”

Narendra mengangguk, ikut penasaran. “Itu benar. Kenapa kau terlihat seperti menahan diri?”

Lynx tersenyum kecil, menatap api unggun di depan mereka. “Karena aku ingin melihat apa yang bisa dilakukan suku Uksa. Aku tahu kalian kuat, dan aku ingin memastikan kalian tahu itu juga. Aku hanya membantu di saat yang benar-benar dibutuhkan.”

Narendra terdiam, memikirkan kata-kata itu. “Jadi kau percaya kami bisa melakukannya sendiri?”

“Ya,” jawab Lynx tegas. “Kalian memiliki keberanian dan kerja sama yang luar biasa. Dengan sedikit arahan, kalian bisa menghadapi apa pun.”

Kanha menatap Lynx dengan mata lebar. “Jadi, kau percaya kami hebat?”

Lynx tertawa kecil, mengacak-acak rambut Kanha. “Tentu saja. Dan kau, Kanha, harus belajar mendengarkan kakakmu. Kau bisa menjadi lebih hebat jika kau berhenti mencari masalah.”

Kanha meringis. “Ya, ya, aku tahu. Tapi kau harus mengakui, aku cukup keren hari ini!”

Narendra dan Lynx tertawa bersama, sementara Kanha terus membanggakan dirinya sendiri. Malam itu, Lynx merasa bahwa ia telah menemukan sekutu yang kuat dalam suku Uksa—dan mungkin, juga sebuah keluarga baru.

Di sebuah perkemahan Monrest yang tersembunyi di dalam hutan, Koren duduk di depan api unggun, tangannya memegang sebuah cangkir yang ia isi dengan cairan pekat berwarna merah kecokelatan. Wajahnya memancarkan kekesalan. Ia sudah menerima laporan dari seorang prajurit yang kembali setelah mengamati pertarungan antara makhluk mutasi dan penduduk Uksa.

"Makhluk itu... mati?" tanya Koren dengan nada rendah, hampir tidak percaya.

Prajurit di depannya mengangguk gugup, menundukkan kepala. "Ya, Tuan. Mereka berhasil menjatuhkannya. Tapi itu bukan karena kemampuan mereka sendiri. Ada seseorang, seorang pria asing, yang membantu mereka. Dia yang memberikan arahan dan—"

"Pria asing?" potong Koren dengan tajam, matanya menyipit penuh amarah. "Siapa dia?"

"Kami tidak yakin, Tuan," jawab prajurit itu dengan suara gemetar. "Tapi dia membawa senjata aneh, sesuatu yang berbeda dari apa yang pernah kita lihat. Dengan senjata itu, dia membantu salah satu pemburu Uksa menghabisi makhluk itu."

Koren mendengus, melemparkan cangkirnya ke tanah. "Bodoh! Mereka bahkan tidak tahu apa yang mereka lawan. Dan kau... kau membiarkan ini terjadi?!"

Prajurit itu gemetar, mengambil langkah mundur. "T-Tuan, kami memantau sesuai perintah. Jika kami bertindak, kami akan mengungkap keberadaan kita—"

Koren berdiri, wajahnya merah karena marah. "Sudah cukup alasanmu! Sekarang kita kehilangan makhluk itu dan memberi mereka kemenangan kecil untuk dirayakan." Ia mendengus lagi, mengusap dagunya sambil berpikir. "Tapi tidak apa-apa. Kita tahu di mana desa mereka sekarang, bukan?"

"Ya, Tuan. Lokasi mereka sudah jelas terlihat. Tapi jebakan mereka masih aktif di beberapa tempat—"

"Jebakan mereka sudah rusak karena pertarungan," potong Koren. "Kita memiliki celah. Tapi aku tidak akan gegabah menyerang malam ini. Kau tahu apa yang akan terjadi jika kita gagal dan membuat marah Ruvan."

Para prajurit lainnya yang duduk di dekat api unggun mengangguk setuju, meskipun wajah mereka terlihat tegang. Tidak ada yang ingin menghadapi murka Ruvan, pemimpin mereka yang terkenal kejam dan tidak memaafkan kesalahan.

"Dengarkan aku baik-baik," kata Koren, kembali menatap prajuritnya dengan mata tajam. "Malam ini, kita bersiap. Pastikan semua persenjataan lengkap. Periksa area sekitar untuk jebakan yang masih aktif, tapi jangan bertindak bodoh. Aku ingin semuanya sempurna saat kita menyerang besok pagi."

Salah satu prajurit yang lebih tua mengangkat tangan dengan hati-hati. "Tuan, apa kita cukup kuat untuk menyerang desa mereka? Meski jebakan mereka sudah rusak, mereka masih punya orang-orang yang tangguh. Dan jika pria asing itu tetap di sana..."

Koren tertawa dingin. "Pria asing itu tidak akan mengubah apa pun. Dia hanya satu orang. Aku punya seluruh pasukan yang siap menghabisi mereka. Dan setelah kita selesai, desa Uksa akan menjadi abu. Ruvan tidak akan kecewa kali ini."

Ia berhenti sejenak, menatap api unggun dengan senyum kejam di wajahnya. "Dan untuk orang asing itu, aku akan memastikan dia mati perlahan-lahan. Tidak ada yang bisa mencampuri urusan Monrest dan lolos hidup-hidup."

Dipertengahan pesta, Lynx menemui kepala suku Uksa. Ia membawa sesuatu yang telah disiapkannya—sebuah pisau besi kecil yang ia bawa terbuat bijih besi. Pisau itu memiliki bentuk sederhana, tapi bilahnya tajam dan mengkilap terkena sinar.

Kepala suku, Widhi, duduk di balai pertemuan yang sama seperti sebelumnya. Wajahnya yang tenang kini tampak sedikit lebih lembut, mungkin karena perayaan kemenangan.

"Lynx," panggil Widhi ketika Lynx melangkah masuk. "Kau membuktikan keberanianmu. Kau sudah menolong suku kami dari serangan makhluk mutasi. Tapi aku yakin kau datang ke sini bukan hanya untuk mendengar pujian."

Lynx tersenyum kecil dan menyerahkan pisau besi itu kepada Widhi dengan kedua tangannya. "Ini untukmu, sebagai tanda persahabatan."

Widhi memandang pisau itu dengan penuh rasa ingin tahu, mengangkatnya di bawah cahaya. "Apa ini?" tanyanya, jari-jarinya meraba bilah yang halus.

"Pisau ini terbuat dari bijih besi," jelas Lynx. "Besi jauh lebih kuat daripada bahan apa pun yang mungkin pernah kalian gunakan sebelumnya. Dengan ini, kalian bisa berburu, bertahan, atau melawan jika perlu."

Widhi terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Ini luar biasa. Kami belum pernah melihat benda seperti ini sebelumnya."

Penduduk yang berada di balai pertemuan mulai berbisik-bisik, sebagian besar kagum dengan pisau itu. Narendra yang berdiri di dekat pintu bersiul pelan. "Pisau itu terlihat cukup tajam untuk menebas apa saja."


